Rafah Kota Terakhir Di Jalur Gaza Menjadi Sorotan Bagi Israel

Kota Terakhir Di Jalur Gaza

Kota Rafah Di Jalur Gaza – Ensiklopedia Britannica mengatakan bahwa karena kemenangan Mesir dalam konflik keempat antara dinasti Ptolemeus (kerajaan Mesir) dan Seleukia (kerajaan kuno Eurasia) pada tahun 217 SM, Rafah menjadi tempat kemenangan. Peta mosaik Bizantium dari abad ke-6 M menunjukkan wilayah Rafah di dekat perbatasan Mesir dan Palestina. Beberapa dekade kemudian wilayah itu diambil oleh Muslim Arab.

Setelah medan perang antara pasukan Mesir dan Suriah pada akhir abad ke-10, kartografer Ibnu Awqal menggambarkan Rafah berada di ujung selatan bekas distrik Abbasiyah Palestina. Namun Inggris menduduki Mesir pada tahun 1906 memantapkan negara tersebut dari pemerintahan Ottoman. Dengan demikian, Rafah dibagi menjadi dua wilayah.

Sejarah Rafah Yang Sebenarnya

Kota terakhir di ujung selatan Jalur Gaza adalah Rafah yang berbatasan langsung dengan Mesir. Separuh timur kota berada di wilayah Gaza, dan separuh barat berada di Mesir. Setelah invasi yang terjadi pada 7 Oktober 2023 lalu 1,4 juta warga Palestina terus mencari perlindungan di Rafah.

Sebagian besar penduduk tinggal di tenda di sepanjang jalan bangunan sementara. Wilayah ini dianggap mengalami kondisi kemanusiaan yang mengerikan. Sejarah menunjukkan bahwa Rafah pada awalnya adalah kota yang terletak di perbatasan antara Mesir dan Suriah dan sering digunakan sebagai tempat konflik. Wilayahnya sering berubah tergantung pada negara mana yang menang dalam konflik.

Akibatnya, orang-orang diketahui membuat terowongan untuk menghindari blokade Israel dan Mesir. Untuk memasok logistik masyarakat, terowongan yang digali sekitar 15 meter di bawah tanah ini menghubungkan sebuah rumah di Gaza dengan sebuah rumah di Mesir. Usai berbulan-bulan perang, Israel sekarang menganggap Rafah sebagai benteng terakhir Hamas. Yoav Gallant menteri pertahanan Israel, menyatakan bahwa Israel hanya memiliki satu cara untuk bertindak di Rafah.

Akhirnya, serangan dilakukan dan tidak menutup kemungkinan invasi kota yang lebih besar. Penasihat Keamanan Nasional Israel, Tzachi Hanegbi, menyatakan bahwa ada kemungkinan perang akan berlanjut selama tujuh bulan lagi hingga akhir tahun ini, seperti yang dilaporkan Al Jazeera.

Serangan Mematikan Israel

Kota itu yang juga merupakan kota terakhir di Jalur Gaza mendapat perhatian internasional. Tentara Israel baru-baru ini melakukan dua serangan mematikan ke Rafah, pada hari Minggu (26/5) dan Selasa (28/5). Serangan itu menewaskan 71 orang, termasuk wanita dan anak-anak, dan 249 lainnya luka-luka. Israel sekali lagi menyatakan bahwa Rafah adalah pertahanan terakhir tentara Hamas.

Seruan All Eyes on Rafah menjadi viral di media sosial di Indonesia dan di seluruh dunia karena fakta bahwa penduduk sipil lah yang terbunuh dalam peristiwa yang mengguncang dunia. Setelah tragedi di Rafah, Gaza, panggilan kemanusaian diserukan. Hingga 30 juta pengguna global telah menggunakan seruan ini di media sosial Instagram.

Ketika Israel menarik diri dari Semenanjung Sinai sebagai bentuk pemenuhan Perjanjian Camp David di tahun 1979, Rafah kembali terpecah pada tahun 1982. Sebelum menarik diri Israel membangun perbatasan modern Rafah di selatan kota. Hingga tahun 2005, mereka juga mengawasi lalu lintas antara Rafah dan Mesir. Meskipun demikian, warga Gaza Palestina tidak pernah bebas dari penjajahan Israel.